Tampilkan postingan dengan label Motorcycle Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motorcycle Tips. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Maret 2010

Murah, Gaya dan Eces

:. CAKRAM BLADE BUAT BEBEK DAN SKUBEK YAMAHA
Murah, Gaya dan Eces
2010-03-20 14:42:41

4159pasang-cakram-yudi-1.jpgPemilik Yamaha Jupiter-Z, Jupiter MX 135LC dan Nouvo bisa tampil lebih gaya dengan menggunakan cakram atau disc brake depan. Proses pemasangan eces serta murah di soal biaya. Kalau sudah begitu, kaki depan dipastikan jadi lebih menarik. Satu lagi, untuk mendapatkan piringan baru ini juga gampang.

Misyanto Pribadi dari HRC Loaxan di Jl. H. Mencong, Ciledug ikut kasih penjelasan. "Model cakram Honda Blade pastinya lebih keren," yakin pria ngetop dipanggil Amore ini.

Emang sih! Terlebih kalau lihat desain kembangan dan bentuk alur lubang cakram yang ada. Lebih menarik dan sporty dibanding cakram aslinya bawaan tipe motor yang disebutkan di atas tadi.

Secara ukuran piringan ini memang tidak terlalu besar. Cuma berdiameter 22 cm. Jadi, penggantian ini murni untuk mengejar tampilan, bukan karena ukuran. Sebab standarnya semua motor tadi juga sama alias 22 cm juga.

Saat proses pemasangannya juga tidak ada kendala berarti. "Sebab seluruh baut teromol berjumlah 4 itu sama persis," bilang Amore lagi.

Baut yang dimaksud adalah ukuran 12 yang ada pada teromol depan pengikat piringan. Kesamaan itu bukan cuma untuk ukuran baut, tapi juga jarak antar baut. "Karena itu tidak ada yang perlu dirombak lagi, benar-benar plek," kata pria yang dulu aktif di dunia grasstrack ini.4160pasang-cakram-yudi-2.jpg

Begitu juga dengan kaliper. Untuk urusan satu ini tetap masih bisa menggunakan kaliper bawaan motor. "Untuk semua tipe motor tadi kalipernya masih bisa dipakai tanpa harus ada yang diubah. Sedangkan kalau mau pasang di Mio, harus ada sedikit ubahan di dudukan kaliper," lanjut Amore yang berambut pendek ini.

Tap, tap, tapi ada juga kelemahan dari disc brake baru ini. Yakni, lubang di cakram yang masih terlalu kecil. "Hal itu menyebabkan cakram jadi nggak bisa dipasangangi gembok buat kunci pengaman," katanya bersemangat.

Bukan tanpa sebab memang. Karena selama ini masih banyak orang menggunakan gembok di piringan. Jurus kunci tambahan ini memang terbukti bisa membuat maling kesulitan bawa kabur motor.

Tapi, itu juga bukan masalah berarti. "Sebab masih bisa bikin lubang tambahan lagi buat masuknya gembok. Itu pun kalau mau," saran Amore.

Amore yang lagi gemar main skubek ini lantas melubangi piringan tadi pakai mata bor baut 14. “Posisinya terserah. Tapi kalau bisa jangan terlalu rapat dengan lubang cakram. Bor di antara dua lubang pada bibir piringan tadi," ungkapnya bersemangat.

Satu hal dan yang paling penting lagi dari pemilihan penggantian cakram ini adalah harga yang murah. Menurut Amore, banderol piringan standar milik Blade ini hanya Rp 100 ribu.

Jadi, dengan modal murah dan pengerjaan yang bisa dilakukan sendiri kenapa tidak mencoba langsung. Pastinya juga, lebih gaya!

Penulis/Foto : Nurfil/Yudi

Solusi Paten Meredam Panas


2010-03-20 14:41:52

41611-bikin-cover-beat-adib.jpgPaling nyebelin kalau bagian tubuh seputar kaki sampai kean sosor knalpot. Apalagi motor baru saja dipakai berpergian, dijamin kulit kaki bakal melepuh. Masalah ini beberapa kali pernah dialami pemilik Honda BeAT lantaran melakukan kesalah riding position. Atau bisa juga karena desain dari pabrikan yang memang kurang sip?

Kesalahan yang dilakukan pengendara skubek biasanya kaki kanan turun lebih dulu saat motor akan berhenti. Kalau kaki kanan agak menjauh dari areal dek enggak masalah, tapi kalau posisi kaki kanan agak ke belakang, tanpa disengaja atau tidak sadar mengarah ke areal kipas pendingin mesin. Bagian betis bisa aja menyentuh leher knalpot.

Kejadian seperti itu memang jarang terjadi. Tapi beberapa pemilik skubek pernah mengalami itu. "Betis saya pernah kena knalpot gara-gara turun pakai kaki kiri duluan," ujar Devitasari pemilik Honda BeAT di bilangan Cinere, Depok.41622-knalpot-beat-endro.jpg

Tuh, ketimbang berisiko mending dilapis aja bagian leher knalpot Honda BeAT dengan cover tambahan. "Bikin cover atau pelindung leher knalpot dari bahan yang tidak menghantar panas," ujar Nurcholis, mekanik bengkel 62C dari kawasan Gandul, Depok (gbr.1).

Untuk aplikasi atau proses pemasangannya juga lumayan gampang. Pertama yang dilakukan adalah bikin bentuk dengan cara dimal pakai karton pada bagian leher knalpot yang akan ditutup cover. Biar manis, bentuknya harus meyesuaikan bagian leher knalpot tadi.

Setelah mal jadi, giliran aplikasi ukurannya pada bahan yang akan dipakai. Lalu potong sesuai bentuk mal dengan gunting khusus. "Pilih bahan yang tidak menghantar panas. Seperti plastik tebal atau pelat aluminum," lanjut Cholis sapaan akrabnya.Lanjut! Biar bisa nempel pada leher knalpot, terlebih dahulu kudu pasang pada dudukan atau breket covernya lebih dulu. Dengan pasang dua buah mur pada bagian leher. "Caranya bisa memanfaatkan mur 8 inci yang ditempel dengan las pada bagian tengah leher knalpot yang terbuka," ujar Cholis lagi.

Setelah dua buah mur ditempel, jangan lupa lubangi bagian cover yang ukurannya sesuai dengan dudukan mur. Baru deh cover pelindung leher knalpot tadi dikunci dengan baut sesuai dudukan yang sudah dibuat. Namun agar tidak meleleh, antara cover dan mur disarankan juga ditahan pakai ring pelindung dari bahan tahan panas.

Bisa juga dengan membungkus leher knalpot. Umumnya dipakai pada mobil untuk kepentingan kompetisi agar panas dari manifold tidak sampai ke ruang mesin (gbr. 2). Gampang, toh...!

Penulis/Foto : Belo/Endro, Adib

Motorplus-online.com

Oli Di Skubek Bore-Up

Kok Bisa Habis Ya?
2010-03-20 14:44:56

4156deteksi-oli-dvd-1.jpgAda kejadian menarik yang dialami Donny, dia salah satu pemilik Yamaha Nouvo Z yang sudah alami bore up engine skubek kesayangannya. Tanpa disadari, oli mesin di motor bore up piston 65 mm itu, habis lho.

“Itu juga baru tahu pas mau ganti oli. Untung feeling gue tepat. Dalam hati sih berkata, kayaknya sudah waktunya ganti oli nih. Untung deh,” ungkap Donny yang tinggal di daerah Bintaro Jaya, Tangerang.

Entah lucu atau aneh. Karena ketika baut pembuangan oli dilepas, taunya oli yang terbuang dari mesin hanya ada dalam hitungan tetes! Bahkan jika ditaruh di dalam gelas ukur, oli tersisa tidak lebih dari hitungan 50 ml. Ih, serem! Lalu, ke mana habisnya ya?

"Memang, tidak sedikit oli berkurang cukup drastis dialami skubek bore up. Maka itu, musti perhatikan jadwal ganti oli serutin mungkin,” ungkap Thomas Agnistra dari F-38, workshop matic di Jl. H Saili Raya, Blok. F, No.38, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Menurut pria akrab disapa Anis ini, hal itu bisa disebabkan karena panas mesin yang berlebih. Iya, ambil contoh dari Yamaha Mio atau Nouvo. Jika standarnya Mio mengaplikasi piston 50 mm, maka terjadi kenaikan 15 mm ketika aplikasi piston 65 mm.
4158deteksi-oli-dvd-3.jpg
Dengan kenaikan piston yang cukup besar, maka panas mesin yang tercipta juga makin tinggi. “Dengan panas yang tinggi melebihi panas mesin seharusnya, maka penguapan juga makin besar. Apalagi, sistem pendinginan mesin hanya menganut model udara,” ujar Anis.

Belum lagi jika liner yang diaplikasi blok silinder itu cukup tipis! Akibatnya, piston musti bergesekan dengan liner yang mudah menghantar panas ke silinder blok. Pastinya, panas yang terjadi dari mesin juga akan makin tinggi. Kondisi ini yang membuat oli menjadi lebih mudah menguap.

Gitu juga menurut Anis, skubek sekarang ini menuntut oli yang lebih encer. Misalnya, viskositas dengan SAE 10W-30. Logikanya, makin encer makin mudah menguap. “Memang benar. Viskositas makin encer, makin mudah menguap terkena panas,” timpal Yauhari Gunawan, General Manager PT Liger Gemilang Nusantara.

Tapi sekali lagi, pemakaian oli encer ini memang sudah tuntutan teknologi mesin moderen. Jika dikasih oli kental, tentu akan bertolak belakang dengan akselerasi yang dihasilkan.

Itu kalau dari penguapan akibat panas mesin berlebih ya! Tapi, lain lagi kalau habis atau hilangnya oli akibat kebocoran yang terjadi di sektor engine. “Kebocoran oli bisa terjadi melalui sil klep yang bocor. Nantinya, oli jadi terbuang melalui exhaust,” ungkap Mariasan Kocek, mekanik workshop JP Racing di Jl. Cendrawasih, Kp. Sawah, Tangerang, Banten.

Selain melalui sil klep, menurut Kocek, kebocoran oli juga bisa terjadi akibat pemakaian liner yang jelek. Kualitas liner yang jelek mempunyai pori-pori. Ketika piston bekerja naik-turun, oli ini terendap di pori-pori. Dan, akhirnya oli kebakar karena tidak bersirkulasi dan terbuang melalui exhaust atau menguap.

Menurut Yauhari, untuk mesin balap atau bore up yang cenderung berkitir di putaran tinggi, akan lebih bagus jika mengaplikasi oli full sintetik. "Oli tipe ini mampu melumasi hingga sela terkecil. Tingkat kekentalannya pun stabil meski dalam kondisi ekstrem dan mampu menjaga mesin meski suhu tinggi," akunya.

Okeh!

DETEKSI OLI HABIS

4157deteksi-oli-dvd-2.jpgHabisnya oli di skubek kesayangan sobat, tentu bisa dideteksi. Pertama, mulai dari jika kondisi oli berkurang ya! Selain dari stick indikator oli, kalau oli di engine berkurang, tentunya suara yang dihasilkan mesin menjadi lebih kasar.

“Karena oli yang berfungsi mengurangi friksi jadi minim. Akibatnya, suara benturan antar komponen menjadi sedikit lebih nyaring,” bilang Yauhari yang juga memiliki line up oli Liger buat matik.

Paling mudah, coba sobat dengar dari bagian kepala silinder. Terutama gesekan antara kem dengan rocker-arm alias pelatuk klep. Kalau oli berkurang, suara menjadi lebih kasar. Suara akan teredam lagi ketika oli sesuai kebutuhan engine.

Deteksi jika terjadi kebocoran, selain lewat rembes oli melalui part yang bocor juga bisa dari knalpot. “Kebocoran oli yang terbuang dari exhaust, akan membuat knalpot menjadi hitam berminyak. Tapi, kalau sekadar hitam saja, karena bensin terlalu kaya,” ujar Mariasan Kocek yang akrab disapa Marco.

Penulis/Foto : Eka/David